Arsip

Archive for the ‘Budaya Jepang’ Category

Lika Liku Kerja di Jepang

“Bagaimana caranya bekerja di Jepang ?”
“Ada lowongan ndak disana, kerja apa saja asal halal ?”
“Ada syarat tentang pendidikan ndak, mesti ada gelar S1, terus ada IPK minimal ?”
Tiga contoh pertanyaan yang sepertinya sangat sering ditanyakan atau ingin diketahui oleh sebagian orang. Pertanyaan yang sangat singkat namun memerlukan jawaban yang panjang. Tentu saja, tidak ada yang salah dengan pertanyaan tersebut, namanya juga orang tidak tahu apalagi informasi lewat google juga (sepertinya) tidak banyak bisa kita dapatkan. Berangkat dari hal ini, lewat tulisan ini saya memberanikan diri untuk menjawabnya dan berharap mudah mudahan ada manfaatnya.
 

Informasi Umum

Bahasa Jepang adalah wajib

Bisa bahasa Jepang ndak ? Pertanyaan ini dipastikan akan selalu ditanyakan bagi mereka yang hendak bekerja di negara tersebut. Wajar saja, bagaimana kita bisa bekerja kalau kita tidak paham apa yang dikatakan oleh atasan atau rekan kerja lainnya ?

Apakah kemampuan bahasa Inggris saja tidak cukup ?

Secara umum jawabannya adalah TIDAK, kecuali untuk pekerjaan tertentu yang memerlukan kualifikasi sangat khusus. Sedikit catatan, hampir sebagian besar orang Jepang tidak faham dengan bahasa Inggris, walaupun untuk percakapan sederhana sekalipun. Mereka sepenuhnya hanya berkomunikasi dengan bahasa Jepang demikian juga dengan tulisannya. Huruf romawi yang biasa kita pakai sehari hari mungkin akan menjadi huruf langka di negara tersebut. Huruf ini berfungsi tidak lebih hanya sebagai pelengkap saja seperti terjemahan nama stasiun atau judul dan halaman depan saja. Jadi selain harus memahami bahasa Jepang, pelamar juga diharapkan menguasai sedikit huruf Jepang terutama hiragana, katakana dan beberapa huruf kanji dasar.
Namun Anda tidak usah khawatir karena kemampuan bahasa yang diperlukan tidak sampai level fasih, namun cukup untuk perkacapan standard sehari hari. Pihak yang merekrut Anda juga bukanlah orang yang bodoh, jadi sebelum diberangkatkan, calon pekerja akan diberikan kesempatan untuk belajar bahasa dan juga ketrampilan lain selama beberapa bulan atau bahkan mungkin selama setahun, jadi cukup untuk menguasai bahasa Jepang untuk percakapan dan komunikasi sehari hari dan juga menguasai beberapa huruf kanji dasar.
Jadi kesimpulan awal dari tulisan ini adalah pentingnya kemampuan bahasa jepang dan tanpa kemampuan berbahasa Jepang, bekerja di negara tersebut hampir tidak mungkin untuk dilakukan. Kalau Anda tertarik untuk bekerja di Jepang sepertinya ada baiknya mempersiapkan ketrampilan bahasa Jepang lebih awal, jadi pada saatnya nanti akan menjadi poin lebih bagi pelamar.
Lowongan pekerjaan yang tersedia
Secara umum bisa dibagi menjadi 3 kelompok yaitu :
1
Pekerja magang (Kenshusei) :
    Lowongan untuk bagian ini yang tersedia dan jumlah yang relatif cukup besar. Kabar baiknya lagi adalah tidak menuntut pendidikan yang tinggi atapun pengalaman kerja. Jenis pekerjaan yang dibutuhkan hampir sebagian besar adalah untuk pekerja pabrik, operator mesin, konstruksi, pertanian serta peternakan. Birokrasi penyalurannya adalah lewat Depnaker yang bekerja sama dengan IMN-Japan. Selengkapnya tentang magang, persayaratan dll silahkan dibaca disini.
2
Tenaga perawat (Kangoshi) dan Caregiver (Kaigofukushishi)
    Penyaluran tenaga kerja ini adalah diatur lewat kerjasama antara pemerintah, Goverment to Goverment (G to G), jadi birokrasi penyalurannya adalah bersifat resmi. Info lengkapnya dengan mudah bisa didapatkan di berbagai tempat atau instansi yang terkait.
3
Pekerja profesional atau dengan skill khusus
  Jenis pekerjaan ini sangat luas dan beragam seperti yang tampak pada list di bawah.
      . Pekerja dengan sertifikat khusus seperti Pengacara dan Akuntan
. Pekerja dibidang medikal seperti Dokter dan Apoteker
. Karyawan yang bekerja di anak perusahaan di Jepang
. Cheff atau tukang masak
. Reporter dan Wartawan
. Pekerja di bidang Olahraga
. Ahli teknik, mekanik, komputer, IT
. Sebagai guru atau pengajar
. Peneliti
. Pekerja di bidang Entertaiment, hiburan, penyanyi, musik dll
. Pekerja di bidang seni seperti pelukis
. Pekerja di bidang kebudayaan
. Spesicialis di bidang jurusan sastra dan hubungan international
. Pekerja di bidang agama, seminar, dakwah, penyebaran agama dll
Penyaluran tenaga kerja bagian ini bisa melalui berbagai jalan dan cara seperti lewat perorangan (independent) dengan mengajukan lamaran ke perusahaan di Jepang, koneksi, ataupun lewat agent tenaga kerja tertentu ataupun organisasi.
 

Apakah tidak ada posisi lain seperti contohnya kasir swalayan, pembantu rumah tangga atau pekerjaan lainnya apa saja asal halal ?

Jawaban paling umum yang bisa saya berikan adalah : TIDAK ADA ! Apalagi untuk tenaga pembantu rumah tangga. Masyarakat negara tersebut kurang mengenal budaya menggunakan tenaga pembantu. Semua urusan rumah tangga umumnya dikerjakan sendiri atau lewat jasa perusahaan pembersih yang bisa disewa kapan saja. Sedangkan pekerjaan sebagai kasir swalayan umumnya adalah pekerjaan paruh waktu yang dilakukan oleh kalangan pelajar atau ibu rumah tangga.

Bagaimana dengan jurusan Sastra Jepang ?

Bagian ini sepertinya sedikit susah untuk dijawab karena kasusnya relatif kompleks. Namun yang jelas, dengan memiliki kelebihan di bagian bahasa, seharusnya peluang menjadi lebih mudah. Apalagi kalau tidak keberatan untuk melakukan kerja kasar (magang) selama 3 tahun, maka dengan keunggulan bahasa yang dimiliki tentu merupakan keuntungan dan nilai tambah tersendiri.

Pendidikan dan pengalaman kerja

Bagian ini hanya diperlukan untuk tenaga profesional saja, itupun tidak seluruhnya. Olahragawan dan tukang masak contohnya, tentu gelar tidak diperlukan sama sekali karana lebih mementingan prestasi atau pengalaman. Sedangkan untuk tenaga kerja magang, syarat adalah minimal tamatan SMA, walaupun cukup banyak juga pelamar yang memiliki ijazah S1.

Gaji dan Potongan Biaya

Sekarang kita mamasuki bagian yang paling menarik yaitu masalah gaji. Tidak bisa dipungkiri bahwa alasan terbesar seseorang ingin bekerja di negara lain, khususnya Jepang adalah karena alasan gaji yang cukup besar. Berapa sih gaji yang akan saya terima ?
Untuk contoh seorang pekerja magang, akan menerima uang saku (gaji) sekitar Rp 8 juta – 10 juta / bulan (80.000 s/d 100.000 yen). Jumlah ini umumnya sudah sudah termasuk potongan pajak, asuransi, tiket pesawat PP dan biaya tempat tinggal. Setelah masa kontrak selama 3 tahun habis, pemagang juga akan mendapatkan uang pesangon sebagai modal usaha sebesar Rp 60 juta (600.000 yen). Sedangkan untuk tenaga pekerja perawat apalagi tenaga profesional gajinya tentu saja akan lebih besar lagi.
Gaji yang sangat besar tentu saja bukan ? Nominal yang sangat besar ini sering membuat calon pekerja silau atau tidak jarang tertipu tanpa memerikasa lebih jauh apakah gaji yang diterima adalah gaji bersih atau masih harus dipotong biaya lain ? Jadi urusan gaji dipastikan harus jelas dari awal karena perlu diketahui biaya hidup di negara tersebut tidaklah murah.
Untuk tenaga kerja magang lewat jalur depnaker dan tenaga perawat karena lewat jalur G to G (goverment to goverment /pemerintah) tentu saja penipuan atau ketidakjelasan semacam ini tidak akan terjadi jadi kewaspadaan diperlukan hanya untuk jalur pribadi atau non resmi.

Berapakah potongan yang harus dibayar kalau gaji diterima dalam bentuk kotor ?

Pengeluaran pertama sekaligus terbesar adalah untuk sewa rumah yaitu sekitar Rp 4.000.000 (40.000 yen) perbulan untuk satu kamar, pengeluaran kedua adalah makanan sekitar Rp 3.500.000 (35.000 yen) perbulan, kemudian disusul dengan pajak pendapatan yaitu sekitar 20% perbulan (kira kira 2 juta rupiah), biaya asuransi kesehatan Rp 900.000 (9.000 yen) /bulan, asuransi hari tua, sekitar Rp 16.000.000 (16.000 yen) / bulan. Semua biaya tersebut bisa nyaris tidak bisa dihindari atau harus dibayar, sedangkan biaya lain seperti hiburan dan komunikasi tentu masih bisa dihemat atau diatur. Sedangkan khusus untuk asuransi hari tua akan dikembalikan lagi setelah kontrak kerja berakhir.
Sedikit catatan untuk biaya asuransi kesehatan adalah bagian yang kelihatan sepele namun sangat vital di negara tersebut. Tanpa asuransi kesehatan, biaya berobat atau rumah sakit di negara tersebut saat mengalami kecelakaan adalah ibarat neraka. Jangankan untuk tenaga asing kelas pekerja, untuk ukuran orang Jepang-pun akan cukup membuat mereka bangkrut. Namun dengan asuransi Anda hanya cukup membayar 30 % saja yang tetap saja masih terasa mahal.
Mungkin ada pembaca yang ingin tahu, bagaimana dengan gaji pekerja lokal ? Jawabannya tentu saja terpaut cukup jauh dengan tenaga kerja asing terlebih untuk pekerja magang. Untuk pekerja pabrik misalnya rata rata adalah 180-200.000 yen (Rp 20 juta) perbulan. Disamping itu setiap tahun mereka umumnya memperoleh bonus dan juga tunjangan lainnya. Perbedaan yang sangat jauh dengan gaji pekerja magang, bukan ? Padahal jenis pekerjaan yang dilakukan adalah hampir sama. Ketimpangan ini tidak jarang menimbulkan kecemburuan di kalangan pekerja magang.

Lembur atau Overtime

Lembur atau Sangyo dalam bahasa Jepangnya, adalah hal umum bagi para pekerja di negara tersebut bahkan tidak berlebihan kalau disebut sebagai bagian dari budaya kerja orang Jepang. Terlebih lagi untuk pekerja pemula, lembur adalah seperti sudah menjadi suatu keharusan sebagai indikasi untuk menunjukkan rasa serius dalam bekerja. Sedikit perlu dicatat disini bahwa sebagian besar dari kerja lembur tersebut adalah tidak dibayar sama sekali. 

Pekerja Illegal

Bagian ini terpaksa harus saya masukkan dalam sub tersendiri, karena memang keberadaannya adalah sangat khusus dan diluar prosedur normal. Beberapa cara yang umumnya ditempuh adalah sebagai berikut :
  1. Masuk ke negara Jepang dengan menggunakan visa wisata dan kemudian melarikan diri menjadi tenaga kerja gelap
  2. Para pekerja magang yang sudah berakhir masa kontraknya namun belum berniat untuk kembali ke Indonesia, atau melarikan diri di tengah masa kontrak karena tergiur tawaran gaji yang lebih tinggi, tidak tahan dengan suasana kerja sekarang atau alasan lain. Menurut catatan dari Nakertrans, prosentase jumlah pemagang yang melarikan diri dalam satu periode keberangkatan (100-300 orang) adalah sekitar 2 s/d 3% sedangkan untuk tahun tahun sebelumnya adalah sekitar 10 %, jadi dari 100 orang pemagang 2 orang berpotensi menjadi pekerja illegal.
  3. Menjadi pekerja prostitusi. Pornografi adalah legal di negara tersebut, tapi prostitusi adalah illegal, jadi pekerjaan prostitusi adalah suatu pelanggaran hukum. Karean alasan upah yang lebih murah, para agen banyak yang memilih mempekerjakan tenaga kerja asing denga visa yang beragam. Yang populer adalah menggunakan visa budaya, visa kunjungan singkat (wisata) atau visa pelajar.
  4. Mereka yang bekerja tidak sesuai dengan visa yang diberikan, misalnya Visa pelajar digunakan untuk bekerja, untuk jenis pekerjaan apapun adalah tidak dibenarkan kecuali sudah mendapat ijin dari sekolah dan pihak imigrasi.
  5. Lain lain
Tentu saja para pekerja ini tidak akan melarikan diri tanpa alasan dan juga tanpa perhitungan sama sekali, karena hal ini sama saja dengan bunuh diri. Sebelum memutuskan untuk menjadi illegal, tentu sudah ada pihak tertentu yang bersedia menampung dan mempekerjakan mereka.
Keberadaan pekerja illegal ini sepertinya merupakan dillema bagi pemerintah Jepang. Disatu sisi mereka jelas melanggar hukum, namun disisi lain justru dibutuhkan terutama untuk sektor pabrik, peternakan atau pertanian terpencil yang kekurangan penduduk. Tidak jarang para penduduk lokal juga melindunginya karena keberadaan mereka cukup dibutuhkan.
Hal inilah yang kadang membuat [imho] pihak imigrasi tidak terlalu ngotot untuk merazia-nya. Dalam beberapa kasus bahkan tidak jarang ada pekerja illegal yang sudah puluhan tahun tinggal di negara tersebut dan bahkan memiliki keluarga dan anak. Kasus Noriko Calderon, anak seorang pekerja illegal dari Phillipina adalah salah satu contoh menarik karena banyak simpati dan dukungan diberikan saat keluarga tersebut diperintahkan untuk meninggalkan negara tersebut.
Beruntung juga, pendidikan di negara tersebut tidak mengenal diskriminasi, baik penduduk asli atau orang asing, legal atau illegal tetap akan mendapat pelayanan pendidikan sehingga Jepang menjadi salah satu tempat yang nyaman untuk para pekerja illegal. Menurut catatan dari organisasi pekerja di negara tersebut, untuk tahun 2000, ada sekitar 500.000 pekerja illegal hidup di negara tersebut. Tentu saja dari angka sebanyak itu, orang Indonesia juga termasuk di dalamnya.
 
Kategori:Budaya Jepang, umum

Mengenal Makanan Orang Jepang

Setiap negara tentu memiliki perbedaan baik dari segi budaya maupun makanannya. Makanan yang umum dikonsumi oleh masyarakat negara tertentu bisa jadi aneh dan tidak umum dikonsumsi oleh masyarakat bangsa lain, demikian juga sebaliknya. Jangankan antar negara, kadang tiap daerahpun kadang perbedaan ini pasti ada terlebih lagi untuk daeah di Indonesia yang memiliki ratusan suku dan ras.
Makanan Jepang hampir tidak mengenal kata makanan haram jadi sepanjang tidak bertentangan dengan hukum, hampir semua makananan adalah sah untuk dimakan. Jadi makanan yang sudah umum seperti sapi, babi, ayam dan berbagai sayuran umum lainya seperti kol, sawi atau wortel adalah makanan umum yang sudah tidak perlu dibahas lagi.

Di tulisan ini saya tertarik untuk menuliskan beberapa bagian yang mungkin menarik untuk diketahui.

Makanan Tidak Populer
Tidak Umum dikonsumsi

Ikan Air Tawar

Bebicara tentang ikan sebagai makanan selalu identik dengan ikan air laut sedangkan untuk ikan air tawar nyaris tidak termasuk didalamnya. Dari sekian banyak ikan air tawar yang ada hanya beberapa jenis saja yang umum dikonsumsi dan biasanya dipilih dari ikan yang hidup di air jernih. Salah satu contonya adalah Ayu, ikan cantik berukuran tiga jari yang amat populer.
Jadi jangan kaget kalau Anda menjumpai banyak lauk pauk berenang dengan bebas di sungai di negara tersebut. Bahkan beberapa diantaranya tampak seperti kesulitan untuk bergerak karena saking besarnya.

Ayu, salah satu jenis ikan air tawar yang umum dikomsumsi
Sumber image : wikipedia

Lele

Lele atau Nemazu dalam bahasa Jepangnya, juga termasuk ikan yang hidup di air keruh, jadi tidak umum dikonsumsi oleh masyarakat tersebut. Menurut cerita beberapa orang tua di negara tersebut, dulu saat mereka masih kecil, di beberapa tempat atau wilayah tertentu bisa dijumpai rumah makan yang menjual menu ikan ini. Namun dewasa ini menu samacam ini hampir sudah tidak ditemukan lagi.
Kambing
Daging kambing bukanlah menu populer di negara tersebut. Dagingnya berbau aneh dan susah diolah menurut mereka. Tentu saja, karena mereka tidak mengenal bumbu dan rempah rempah seperti di negara kita. Kambing yang diternakan di negara tersebut hanya untuk dimanfaatkan susunya untuk keperluan pembuatan keju. Namun daerah paling selatan di negara tersebut yaitu Okinawa adalah perkecualiannya. Jadi bagi Anda penggemar sate kambing, harus melupakan sejenak untuk menyantap makanan kegemaran Anda.

Itik / Bebek

Menu daging ini hanya bisa ditermukan di rumah makan China, sedangkan penduduk lokal sendiri hampir tidak mengenal tradisi menkonsumsi daging bebek. Selain dagingnnya, telor bebek juga tidak umum ditemukan atau dijual di negara tersebut. Satu satunya perkecualian dan masih bisa ditemukan adalah Kamo, sejenis bebek liar. Walaupun masih satu spices dengan bebek, namum memiliki rasa yang sangat berbeda dengan bebek rumahan.
Bumbu dan rempah rempah
Bumbu dan rempah rempah adalah benda langka di negara tersebut. Hal ini sepertinya wajar karena disamping bumbu tidak bisa tumbuh di negara tersebut, budaya makanan mereka juga kurang mengenal penggunaan bumbu dalam pengolahannya. Dari sekian banyak jenis bumbu yang kita kenal, hanya beberapa jenis saja yang umum ditemukan di negara tersebut yaitu bawang putih, jahe, tomat dan merica.
Sedangkan khusus untuk cabai di beberapa tempat atau swalayan masih bisa ditemukan walaupun terbatas hanya pada waktu musim panas saja. Jumlah ataupun porsinya juga sangat kecil karena tidak banyak orang yang membutuhkannya. Bagi yang tidak keberatan dengan versi kering alias tidak fresh lagi bisa diitemukan dengan mudah di banyak tempat namun tentu saja dengan rasa yang sudah tidak karuan lagi. Jadi bisa dibayangkan betapa sulitnya bagi warga Indonesia yang hendak memasak di negara tersebut.

Makanan Populer Dan umum ditemukan

Belut

Semua orang pasti tahu tahu belut, binatang yang sepintas mirip ular, bertubuh licin dan hidup di dalam lumpur sawah. Belut  merupakan makanan yang populer di Indonesia tapi relatif jarang ditemukan, ternyata salah makanan favorit di negara tersebut. Daging belut atau Unagi dalam bahasa Jepangnya selain enak juga dipercaya bagus untuk menjaga stamina. Harganya ? Relatif mahal yaitu minimal sekitar 1000 yen atau 100.000 untuk ukuran nasi kotak.
Mungkin Anda sedikit bingung, bukankah orang Jepang umumnya tidak makan ikan air tawar, sedangkan belut hidup di lumpur atau air tawar yang kotor ?

Sumber image: wikipedia
Jenis belut yang disantap oleh mereka sedikit berbeda dengan belut sawah yang kita kenal. Belut yang dikonsumsi berukuran cukup besar kira kira setengah meter dan umumnya hidup di air jernih. Disamping itu ikan ini juga beracun, walaupun tidak terlalu berbahaya dan tetap aman dikomsumsi dengan cara dibakar atau dipanggang.

Ikan Beracun

Ngomong ngomong tentang ikan beracun, sepertinya tidak ada yang lebih berbahaya dari ikan Fugu. Dipastikan si korban akan tewas hanya dalam waktu beberapa jam setelah mengkonsumsinya. Diawali dengan perasaan sangat enak, senang dan merasakan diri melayang di awang awang dan akhirnya tewas.

Fugu
Sumber image : wikipedia
Jepang memang unik, karena walaupun berpotensi nyawa melayang, warung atau restoran yang menghidangkan masakan ikan berharga mahal, enak namun beracun ini tetap ramai dikunjungi. Untuk menghidari jatuhnya korban jiwa maka diterapkan ataran dan stndard keamanan yang tinggi yang salah satunya, tukang masaknya harus bersertifikat khusus.

Rebung Bambu

Rebung bambu atau Take no ko, merupakan makan yang umum kita jumpai di negara tersebut. Makanan ini mengingatkan saya pada masa kecil, dimasa makanan susah diperoleh sehingga rebung bambu menjadi makanan alternatif.


sumber image : wikipedia

Ketela Rambat

Di Indonesia, ketela rambat (Eng : sweet poteto, Jpn : satsuma imo) umumnya merupakan makanan kelas dua yang cendrung diabaikan. Bahkan tidak jarang, makanan ini lebih umum dikonsumsi oleh hewan peliharaan saja. Namun situasinya sangat berbeda kalau kita bandingkan dengan Jepang.
DI negara tersebut, ketela rambat merupakan makanan mahal yang harganya sekitar 300 yen (Rp 30.000) per 1/2 kg. Jadi sedikit jauh lebih mahal dibandingkan dengan makanan sejenis yaitu kentang. Namun ada yang sedikit berbeda dari ketela di Indonesia dengan di Jepang yaitu dari segi rasanya yaitu sangat manis, sedangkan dari segi ukuran hampir setengah dari ukuran ketela Indonesia. Hal ini disebabkan karena ketela tersebut ditanam dengan tanah yang bercampur pasir pantai.
Umbi pohon lotus
Anda tahu tanaman lotus ? Tanaman hias berbunga indah umum ditemukan di kolam dan (sepertinya) masih satu rumpun dengan pohon teratai. Cukup menarik karena umbi dari tanaman lotus atau Renkon dalam bahasa jepang, ternyata bisa dimakan dan menjadi makanan favorit di negara tersebut. Beberapa makanan negara lain seperti China misalnya juga mengenal menu makanan ini.

sumber image : wikipedia

Makanan Populer

Tapi tapi terbatas / tidak umum ditemukan

Berikut ini adalah sejumlah makanan populer namun tidak umum ditemukan yang artinya, semua orang mengetahui tentang makanan tersebut, bisa atau layak dimakan namun tempat ataupun warung makan yang menjulanya adalah terbatas atau hanya ditemukan di wilayah tertentu saja.

Daging Kuda

Menu ini hanya ditemukan di daerah tertentu saja. Umumnya kuda yang di jadikan santapan adalah jenis kuda pacuan yang tidak berprestasi. Seperti di ketahui olahraga pacuan kuda sangat populer di negara tersebut. Namun dari sekian banyak kuda pacuan yang ada serta kerasnya persaingan di arena pacuan membuat sejumlah kuda yang lemah akhirnya harus dikorbankan dan nasibnya berakhir di rumah makan.

Ikan paus dan lumba lumba

Pada masa lalu, ikan paus (Kujira) merupakan makanan pokok penduduk negara tersebut namun dewasa ini karena diikat oleh sejumlah aturan dan pembatasan, membuat mamalia laut terbesar ini menjadi langka dan relatif sulit ditemukan. Saat ini hanya sejumlah wilayah dan tempat makan tertentu saja, menu ikan ini bisa ditemukan. Kemudian khusus untuk lumba lumba (Iruka) tersedia dalam jumlah yang lebih terbatas lagi. Makanan ini hanya dikonsumsi atau ditemukan di satu desa atau wilayah, serta tersedia hanya pada bulan bulan bulan tertentu saja. Selengkapnya tentang topik ini bisa dibaca pada tulisan saya disini.

Daging kura kura

Daging kura kura dipercaya memiliki khasiat untuk menjaga stamina serta untuk peremajaan kulit. Hal ini menyebabkan makanan ini cukup populer di kalangan wanita. Kura kura yang dikonsumsi umumnya hanya dari satu jenis saja yaitu kura kura berkulit lunak atau dalam bahasa Jepang disebut Suppon (Pelodiscus Sinensis).

sumber: http://www.eonet.ne.jp/~limadaki/budaya/jepang/artikel/utama/makanan_umum.html

Kategori:Budaya Jepang, umum

Arti Kata Prefektur

Prefecture/Prefektur

Prefecture adalah semacam Provinsi kalau di Indonesia. Umumnya nama prefecture juga sekaligus merangkap menjadi nama kota (ibu kota) contohnya adalah Hiroshima dan Nagasaki, namun ada juga beberapa prefecture yang memiliki nama ibu kota tersendiri seperti contohnya kota Nagoya yang merupakan ibu kota dari Aichi Prefecture.
Prefecture dalam bahasa Jepang disebut dengan KEN, ditambahkan diakhir nama prefecture misalnya Hiroshima Ken. Namun sejumlah 4 prefecture memiliki perkecualian yaitu memiliki akhiran kata FU untuk 2 prefecture (Osaka Fu dan Kyoto Fu), DO untuk Hokkaido dan TO untuk Tokyo

Regions atau Wilayah

Pengelompokan prefecture menurut wilayah. Misalnya Tokyo dan kota yang ada disekitaranya disebut dengan wilayah Kanto kemudian untuk kota Osaka dan sekitarnya disebut dengan Kansai. Untuk di Indonesia mungkin mirip dengan istilah Jabotabek, Nusa Tenggara dsb.
Nama Kota
Prefecture
Regions
Sapporo 札幌 Hokkaido 北海道
Morioka 盛岡 Iwate 岩手
Tōhoku
東北
Sendai 仙台 Miyagi 宮城
Akita Akita 秋田
Yamagata Yamagata 山形
Aomori Aomori 青森
Fukushima Fukushima 福島
Utsunomiya 宇都宮 Tochigi 栃木
Kantō
関東
Maebashi 前橋 Gunma 群馬
Mito 水戸 Ibaraki 茨城
Yokohama 横浜 Kanagawa 神奈川
Shinjuku 新宿 Tokyo 東京
Chiba Chiba 千葉
Saitama Saitama 埼玉
Kōfu 甲府 Yamanashi 山梨
Chubu
中部
Kanazawa 金沢 Ishikawa 石川
Nagoya 名古屋 Aichi 愛知
Nagano Nagano 長野
Niigata Niigata 新潟
Fukui Fukui 福井
Gifu Gifu 岐阜
Toyama Toyama 富山
Shizuoka Shizuoka 静岡
Wakayama Wakayama 和歌山
Kansai
関西
Tsu Mie 三重
Otsu 大津 Shiga 滋賀
Nara Nara 奈良
Kyoto Kyoto 京都
Hyōgo Hyōgo 兵庫
Osaka Osaka 大阪
Matsue 松江 Shimane 島根
Chūgoku
中国
Tottori Tottori 鳥取
Yamaguchi Yamaguchi 山口
Okayama Okayama 岡山
Hiroshima Hiroshima 広島
Kōchi Kōchi 高知
Shikoku
四国
Tokushima Tokushima 徳島
Matsuyama 松山 Ehime 愛媛
Takamatsu 高松 Kagawa 香川
Miyazaki Miyazaki 宮崎
Kyūshū
九州
Kagoshima Kagoshima 鹿児島
Oita Oita 大分
Kumamoto Kumamoto 熊本
Saga Saga 佐賀
Nagasaki Nagasaki 長崎
Fukuoka Fukuoka 福岡
Naha 那覇 Okinawa 沖縄
Kategori:Budaya Jepang, umum

C H I N D O G U


Apa itu Chindogu ?

Chindogu berasal dari kata Chin (langka) dan Dōgu (alat), jadi terjemahan bebasnya kurang lebih, suatu alat yang langka, unik dan tidak biasa ditemukan. Alat umumnya berarti suatu benda yang memudahkan kita dalam bekerja dan langka umumnya selalu berharga, namun Chindogu adalah perkecualiannya. Alih alih membuat mudah, justru Chindogu membuat repot pemiliknya.
Istilah ini dipopulerkan pertama kali oleh Kenji Kawakami, seorang penemu, tokoh dan master Chindogu yang sangat kreatif. Puluhan ribu barang ajaib dan langka yang berhasil dibuatnya namun hampir semuanya adalah useless alias tidak berguna. Namun walaupun penemuannya menjadi bahan tertawaan banyak orang, sama sekali tidak mengendorkan semangat tokoh ini untuk berkarya. Kerja kerasnya sepertinya membuahkan hasil.
Tahun 1995, Kawakami berkoaborasi dengan sebuah penerbit dan berhasil merilis sebuah buku berbahasa Inggris berjudul 101 Unuseless Japanese Inventions: The Art of Chindogu. Buku ini sukses di Jepang, terjual jutaan copy serta diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing lainnya. Sejak saat itulah Chindogu dan sang tokoh mulai dikenal di seluruh dunia. Sejak itu, sejumlah media baik dalam dan luar negeri mulai meliputnya dan secara rutin berkunjung ke rumah yang sekaligus merangkap sebagai bengkel tokoh ini untuk melihat alat penemuan barunya.
Chindogu adalah sebuah fenomena. Di satu sisi kehadirannya dianggap tidak lebih dari penemuan dagelan murahan semata yang dibuat oleh orang sinting dan kurang kerjaan. Namun disisi lain khususnya bagi orang asing, dinggap sebagai suatu seni dan bagian dari budaya Jepang. Sebagian besar buku asing menyebutnya sebagai Unuseless Japanese Inventions, dan sebagian lagi memberi nama The Art of Chindogu.
Menurut saya sepertinya Chindogu telah mengajarkan beberapa hal penting, pantang menyerah, terus berpikir serta tidak berhenti berkreasi walaupun dengan hasil yang kecil. Walaupun penemuan Chindogu adalah tidak berguna dan mustahil untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari hari, setidaknya karyanya telah menghibur jutaan orang di berbagai belahan dunia.
Sedikit pemahaman budaya adalah penting.

Sebagian besar dari penemuan Chindogu adalah sangat sederhana dan mudah untuk dipahami kegunaannya hanya dengan melihat gambarnya saja. Namun sebagian lagi mungkin membingungkan atau tidak Anda mengerti dimana letak lucunya. Jadi untuk memahaminya kadang Anda memerlukan sedikit pengetahuan tentang budaya mereka. Contohnya adalah pada foto di samping.
Hampir semua rumah di Jepang umumnya lantainya terbuat dari kayu atau tikar rumput. Jadi agar tidak kotor, saat memasuki rumah, sepatu harus dilepas dan ditaruh di depan pintu dengan rapi dan ujung sepatu atau sandal harus menghadap ke luar.
Tujuannya selain agar terlihat lebih rapi, juga agar memudahkan memakainya saat keluar rumah. Bagi sebagian orang yang tidak mau repot karena selalu harus membungkuk dan merapikan arah sepatu maka diciptakanlah sepatu serba guna seperti gambar di samping.
Selamat menikmati. [oketo] [2010, 10, 10] Referensi dan sumber image, sebagian besar adalah diambil (di-scan ) dari Buku Chindogu versi awal atau dikenal juga dengan nama Classic Chindogu. Image foto yang lebih lengkap silakan di lihat disini , sedangkan untuk video liputan televisi Jepang (bhs Jepang) bisa dilihat disini.
Anda adalah orang berkepala licin alias botak ? Kepercayaan diri Anda hilang setiap kali bercermin. Anda tidak semangat keluar rumah dengan kondisi tersebut ?
Jangan khawatir, ada cara untuk mengembalikan rasa percaya diri tersebut. Pakailah alat ini setiap kali anda bercermin atau beberapa saat sebelum keluar rumah. Dijamin kepercayaan diri anda akan pulih kembali . . .
bagaimana jika tiba-tiba hujan deras tejadi pada saat anda pulang kantor. tenang saja dengan dasi ini semua bisa diatasi. Dasi sekaligus payung.
Bagi orang tertentu, menggaruk punggung disaat gatal bukanlah pekerjaan ringan. Tangan biasanya susah dilipat kebelakang, jadi memerlukan orang lain untuk menggaruknnya. Tentu saja karena bukan punggung sendiri tentu si penggaruk tidak akan tahu letak bagian yang gatal. Nah, dengan T-shirt ajaib ini semua masalah tersebut akan terpecahkan dengan mudah.
Kategori:Budaya Jepang

Jepang Negara Tanpa Agama?

Kehidupan Beragama di Jepang


Ilustrasi
Sumber image : keranjangkecil

Pengantar

Dari pelajaran sejarah dunia, yang kita dapatkan di sekolah, mungkin dijelaskan bahwa mayoritas penduduk Jepang beragama Buddha atau Shinto yang merupakan agama asli penduduk setempat. Penjelasan yang sama sekali tidak salah, karena dua tempat ibadah itulah yang paling dominan bisa temukan di sini. Namun benarkah kedua agama itu merupakan agama terbesar yang dipeluk oleh kebanyakan orang Jepang ?

Gambaran Umum

Jepang adalah negara sekuler, yang hal itu berarti negara tidak ikut campur masalah agama. Dalam setiap data pemerintahan atau surat resmi lainya tentang identitas penduduk, identitas agama tidak dicantumkan dan juga tidak akan pernah ditanyakan. Mungkin ada di antara pembaca yang bertanya “Bagaimana dengan agama di KTP ?” Mereka tidak mengenal sistem KTP. Identitas seseorang biasanya cukup ditunjukkan dengan SIM, kartu pelajar, kartu karyawan dan sejenisnya. Jadi dalam hampir semua aktifitas sehari hari mereka nyaris tidak ada kesempatan untuk menjelaskan tentang identitas agama yang kita anut.
Tentu saja layaknya negara sekuler lainya, kantor department agama, menteri agama dan juga hari libur untuk memperingati hari besar agama tertentu, ataupun ucapan selamat dari kepala pemerintahan pada perayaan agama tertentu, praktis tidak ada. Yang mungkin lebih menarik lagi adalah di lingkungan dunia pendidikan, pelajaran agama adalah dilarang untuk diajarakan di semua sekolah negeri milik pemerintah. Agama hanya dibahas dalam konteks sejarah saja.
Orang Jepang ternyata tidak beragama !

“Saya tidak beragama !” Mungkin ini adalah jawaban yang paling umum kalau seandainya Anda bertanya tentang agama pada orang Jepang. Jawaban yang sepertinya sangat wajar bagi mereka namun tentu saja sangat tidak wajar bagi kita.
Pertanyaan tentang agama cendrung umum ditanyakan oleh orang asing, tidak bagi sesama orang Jepang. Nah, bagi mereka yang tidak biasa atau tidak pernah berkomunikasi dengan orang asing, mendadak ditodong dengan pertanyaan “Agama Lu apa ?” terang saja mereka bingung dan akhirnya cendrung menjawab tidak tahu. Sebagian lagi mungkin saja menjawab dengan agama Buddha atau Kristen, namun kalau Anda bertanya lebih jauh tentang ajaran dari masing masing agama yang mereka sebutkan tadi, saya yakin Anda akan mendapatkan jawaban yang hampir seragam yaitu “Tidak tahu”.
Yang paling menarik mungkin adalah tentang agama Shinto. Hampir dipastikan bahwa Anda tidak akan pernah mendengar ada orang Jepang yang mengaku beragama Shinto. Kalau Anda mempelajari lebih jauh tentang agama Shinto mungkin semuanya akan menjadi sedikit lebih jelas karena bagi mereka Shinto bukanlah agama, namun hanya budaya atau kebiasaan saja. Shinto sama sekali tidak mengenal ajaran, kitab suci atapun nabi, namun uniknya memiliki kuil atau tempat suci untuk sembahyang. Selengkapnya tentang Shinto bisa dibaca disini.
Sebetulnya bukan cuma sebatas agama Shinto saja, pada dasarnya semua agama bagi orang Jepang hanyalah sekedar budaya, tradisi atau kebiasaan saja.

Pendapat Sebagian Orang Jepang
Tentang Agama

Agama itu tidak penting !

Bagi kebanyakan orang Jepang, agama bukanlah merupakan sesuatu hal yang penting, seperti yang tampak pada hasil survery yang dipublikasikan pada buku Japan Religion and Society Pradigms of Structure and Change, karangan Winston Davis, 1992, menunjukkan hasil yang cukup mencengangkan,
Negara
Sangat Penting
Sedikit Penting
Tidak
Terlalu penting
T idak penting
Tidak tahu
Jepang
12 %
34 %
44 %
10 %
0 %
Eropa Barat
27
32
26
13
2
Inggris
23
26
26
20
5
Amerika
56
30
8
5
1
India
81
14
3
2
0
Jadi menurut tabel di atas, tampak bahwa 44% responden menganggap bahwa agama adalah tidak terlalu penting bagi mereka.
Jadi kalau bukan agama, apakah yang dianggap penting bagi mereka ?
Jawabannya (sepertinya) adalah Prilaku dan Sopan santun. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh ajaran Buddha yang lebih mementingkan perbaikan prilaku dan pencarian diri dibandingkan dengan pencarian Tuhan atau agama. “Apa nama Tuhan dalam agama Buddha ?” pasti akan susah untuk dijawab dan mereka sama sekali tidak mempersalahkanya karena menganggap jawaban dari pertanyaan tersebut tidak akan berpengaruh terhadap prilaku seseorang.
Dalam tata krama etika sopan santun berprilaku mereka sangat ketat atau bahkan tidak berlebihan kalau saya katakan keterlaluan. Bagi yang pernah mempelajari bahasa Jepang pasti tahu, bagaimana pentingnya memahami bahasa sopan, bahasa standar dan bahasa merendahkan diri. Pilihan kata yang salah atau terbalik dianggap sebagai tidak tahu manner atau sopan sopan, tanpa peduli betapa seringnya anda sembahyang.

Agama = Berbahaya !

Tidak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan orang Jepang akan memadang negatif pada segala aktivitas yang berbau agama, bahkan sebagian kecil dari mereka beranggapan bahwa agama hanya cocok dipelajari oleh orang yang memiliki kelainan mental atau sakit jiwa ! Terlebih lagi kalau diantara mereka yang topik pembicaraannya selalu menyerempet atau menyebut Tuhan, dijamin 100% pasti akan dianggap gila.
Setelah terjadinya tragedi serangan gas sharin yang dilakukan oleh kelompok agama Aum Shinrikyo, pandangan kebanyakan orang tehadap agama yang memang sudah negatif semakin buruk. Teror, perang, kerusuhan dan ledakan bom atas nama agama yang banyak terjadi belahan dunia lain, tampaknya seperti membenarkan pendapat meraka dan membuat kecurigaan mereka agama seakan mendapat tempat.
Agama adalah kebebasan
Bagi kebanyakan orang Jepang, agama adalah suatu kebebasan. Dengan beragama jiwa menjadi bebas. Mereka sama sekali tidak mau terikat dengan satu faham agama tertentu. Jadi bukan hal aneh kalau masyarakat di negara tersebut menjalankan berbagai ritual agama campur aduk tanpa pernah ada yang memperdebatkannya.
Kebanyakan orang akan Jepang di hari tertentu akan berdoa di kuil Shinto, namun di hari yang lain juga berdoa di kuil Buddha. Saat upacara kelahiran, dewasa, peresmian gedung dan ritual lain yang bersifat keduniaan umumnya dilakukan dengan ritual Shinto dan untuk upacara kematian dilakukan sepenuhnya dengan ritual Buddha. Sedangkan khusus untuk upacara pernikahan sepertinya jauh lebih unik lagi. Ada dua pilihan yang ada yaitu menikah ala Jepang yaitu dilangsungkan di kuil Shinto atau menikah ala barat yang berlangsung di gereja. Apakah pasangan pengantin tersebut adalah beragama Kristen, Shinto atau Buddha tidaklah terlalu penting bagi mereka.
Hal lain adalah dari banguan kuil yang ada, baik kuil Buddha maupun Shinto, yaitu bebas dimasuki oleh siapa saja. Pengunjung tidak akan pernah ditanya tentang agama dan juga datang ke kuil tidak dituntut harus berdoa atau sembahyang. Anda juga bisa berkunjung ke kuil hanya untuk sekedar melihat lihat ingin tahu atau kunjungan wisata biasa.
Jadi agama betul betul merupakan kebebasan di negara tersebut. Hal inilah yang mungkin menyebabkan kebanyakan orang Jepang merasa nyaman kalau memilih tidak beragama, suatu kebebasan yang sepertinya tidak mungkin bisa didapatkan kalau harus memeluk suatu agama tertentu.

Tolerasi Kehidupan Beragama

Terlepas dari sikap acuh dan dingin tentang agama serta pendapat miring dan pandangan negatif lainnya, namun secara umum untuk urusan toleransi, situasinya bisa dikatakan sangat bagus atau bahkan tidak berlebihan kalau saya katakan patut diacungi dua jempol.
Ketika zaman Edo (1603 – 1868) agama Kristen dilarang dan ditindas. pengikutnya dihukum mati atau diusir ke luar Jepang. (baca : Sejarah perkembangan Kristen di Jepang). Perlu diketahui bahwa konfilk agama yang ada saat itu sesungguhanya bukan disebabkan oleh alasan agama semata namun lebih banyak karena alasan politik dan kekuasaan. Apapun alasannya yang jelas semuanya ini adalah cerita lama yang sepertinya hampir tidak mungkin ditemukan di era modern. Saat ini gereja bisa kita jumpai di banyak tempat, bersebelahan dengan kuil atau jinja. Belakangan ini, seiring dengan banyaknya pendatang dan imigran di negara tersebut, agama Islampun mulai tumbuh dan bersemi di negara ini.(baca : Islam di Jepang). Ratusan mesjid berdiri seperti jamur di musim hujan. Hal ini tentu saja tidak mungkin terjadi tanpa didukung oleh iklim toleransi yang tinggi.
Toleransi dan saling menghormati kepercayaan pihak lain juga bisa ditemukan dalam berbagai kesempatan. Dalam setiap acara pesta atau perayaan misalnya, karena mengetahui saya berasal dari Indonesia, pertanyaan seperti “Apakah saya bisa makan daging babi atau minum bir ?” hampir selalu ditanyakan. Sepertinya jaminan tentang kebebasan beragama yang diatur oleh undang undang, berfungsi dengan sangat baik dan bukan cuma sekedar slogan belaka.

Penutup

Jadi dari penjelasan saya di atas sepertinya jelas bahwa agama bukanlah hal yang penting bagi mayoritas penduduk negara tersebut. Agama adalah urusan pribadi dan bagi pemerintah, agama dianggap sebagai bagian atau kegiatan budaya.
Tanpa agama, apakah mereka bisa bahagia ? Apa tujuan hidup mereka ? Bagaimana mereka menjaga keseimbangan antara rohani dan jasmaniah ? Bagaimana hubungannya dengan kasus bunuh diri atau pornografi yang marak terjadi di negara tersebut ? Pertanyaan yang tampaknya wajar, namun apapun jawabannya tampaknya tetap saja susah untuk kita mengerti. Mungkin karena selama ini di dalam pikiran kita sudah dibentuk suatu pemikiran bahwa agama adalah satu satunya sumber moral dan tuntunan hidup sejati. Tanpa agama berarti tidak bermoral.
Dalam sudut pandang yang lain, orang Jepang pun juga susah mengerti “keterikatan” kita yang menurut mereka berlebihan dalam hal agama. Sama halnya dengan pertanyaan : “Apakah dengan beragama, sembahyang setiap hari akan membuat hidup kita menjadi lebih bersih, tertib dan tidak korupsi ?” Nah, pasti susah untuk menjawabnya bukan ? Jadi dari kenyataan yang ada sepertinya antara agama dan moral sama tidak selalu berhubungan.
Agama adalah ibarat Bekerja bagi orang Indonesia, tanpa agama kita tidak bisa hidup. Sedangkan bagi orang Jepang Bekerja adalah agama, tanpa bekerja (pekerjaan) mereka tidak akan bisa hidup. Dengan penjelasan seperti mungkin bisa sedikit lebih mudah diterima bagi orang oleh kedua belah pihak.
Mereka tampak bangga dengan budaya kerja kerasnya dan di belahan dunia lain ada masyarakat yang sangat bengga dengan agama yang dimilikinya. Sepertinya menurut saya setiap orang harus memiliki sesuatu yang harus bisa dibanggakan. Hilangnya kebanggaan ini sama dengan hilangnya harga diri atau pegangan hidup, seperti halnya dengan orang yang memilih mati karena putus asa kehilangan harga diri dan pegangan hidupnya. Harga diri dan pegangan hidup yang dimaksud tentu saja adalah pekerjaan.

Itulah sedikit cerita tentang kehidupan beragama masyarakat Jepang. Semoga bermanfaat.

Kategori:Budaya Jepang

Etika dan Sopan Santun Warga Jepang

Etika dan Sopan Santun



Pendahuluan

Agama bisa jadi bukan merupakan sesuatu hal yang penting dinegara tersebut, namun kalau sudah menyangkut tentang etika, sopan santun, tata krama ataupun basa basi, maka situasinya akan menjadi terbalik, ribet, rumit, membosankan atau bahkan keterlaluan. Namun suka ataupun tidak suka, bagian ini harus dipelajari oleh semua orang, bahkan tidak terkecuali untuk golongan yakuza sekalipun.
Bagaimana dengan orang asing, bukankah bagian ini tidak ada hubungannya sama sekali ? Benar, khusus untuk orang asing, sebagian besar dari sopan santun ini tidaklah terlalu penting dan sebagian besar dari mereka bisa memakluminya atau bahkan terlihat lucu kalau dilanggar. Namun khusus untuk beberapa bagian tertentu bisa beakibat fatal kalau dilanggar.
Etika dan sopan santun sebetulnya bukanlah hal yang terlalu susah untuk dipahami ataupun dilaksanakan, karena umumnya hampir sebagian besar adalah sama saja dan berlaku universal tanpa batas negara. Seelengkapnya adalah sebagai berikut.
Semoga bermanfaat

Etika Dasar

Bagian ini memuat etika dasar yang sepertinya sudah berlaku umum dan berlaku di wilayah atau negara mana saja, jadi sepertinya tidak terlalu susah untuk dilakukan. Perbedaannya mungkin hanya terletak pada istilah dan bahasa saja. Kata “hallo, thank you atau sorry” sepertinya sudah lebih dari cukup. Apalagi kalau anda mengucapkannya dengan senyum tersungging di bibir, maka segala tetek bengek tentang etika sepertinya sudah tidak diperlukan lagi karena sudah berlaku universal, kecuali saat minta maaf.
Salam
Mengucapkan salam atau Aisatsu adalah merupakan bagian awal dan sekaligus paling dasar dari pelajaran sopan santun. Saat kita belajar bahasa asing manapun, bagian ini selalu ditempatkan pada pelajaran paling depan yang sedikit membuktikan batapa pentingnya Aisatsu ini harus dikuasai dan dilakukan.
Salam bukan hanya penting digunakan untuk situasi resmi, untuk orang asing atau orang lain, tapi juga digunakan untuk lingkungan teman dan bahkan keluarga sendiri. Secara umum salam yang paling umum dipakai adalah kata Konnichiwa, yang artinya kira kira adalah Hallo ! Jadi kata ini sangat mudah digunakan terlebih untuk orang asing dan bisa dipakai salam segala kesempatan.
Satu lagi hal menarik menurut saya adalah, salam salam khusus yang hanya dikenal dalam dunia dagang yaitu, Irrashaimase yang artinya kita kira adalah selamat datang. Jadi saat seseorang memasuki restoran, rumah makan ataupun toko apapun di negara tersebut, pengunjung selalu disambut dengan salam ini atau bahkan dilakukan secara serempak oleh semua pegawai toko. Contoh kecil ini mungkin bisa memberikan sedikit gambaran bagaimana pentingnya fungsi salam bagi budaya mereka.

Jabat tangan

Khusus mengenai jabat tangan adalah satu hal yang perlu sedikit diperhatikan. Umumnya orang Jepang tidak akan menyentuh orang yang belum dikenalnya sehingga jabat tangan bukanlah merupakan budaya mereka. Sebagai gantinya mereka biasanya akan membungkukkan badan yang mungkin telah Anda ketahui. Dalam hubungan bisnis dan formal bisa jadi bungkukan badan yang dilakukan akan lebih dalam lagi dan dilakukan selama berkali kali. Kadang bukan hal yang aneh kalau kebiasaan yang sudah mendarah daging ini kadang dilakukan juga ketika menerima telephone ! Khusus untuk orang asing, mereka umumnya lebih toleran dan akan tidak menolak kalau kita mengulurkan tangan untuk berjabatan. Jadi cara mana yang akan Anda pilih hendaknya disesuaikan dengan situasi.
Terima kasih dan minta maaf

Mengatakan terima kasih dan juga minta maaf tentu bukanlah hal yang sulit karena kitapun pasti sudah biasa melakukannya. Seperti yang telah disebutkan di atas, bahasa bukanlah yang terpenting namun ketulusan dalam mengucapkannya adalah yang paling penting.

Khusus untuk permintaan maaf, sepertinya harus ditulis dengan sedikit lebih lengkap karena cukup komplek dan sulit dalam bahasa Jepang. Kalau kita mencarinya di kamus maka kita akan menemukan banyak kata yang artinya adalah maaf yaitu : Sumimasen, gomen, gomen nasai, moshiwake nai, moshiwake gozaimasen, owabi o moushi agemasu dll. Kata pertama dipakai sebagai kata umum dan paling banyak dipakai yang artinya juga kadang berarti “permisi” ketika menanyakan arah jalan dan sebagainya, jadi cukup mudah untuk digunakan. Sedangkan dua kata terakhir paling banyak dipakai untuk situasi formal atau untuk kesalahan yang dianggap lebih serius.
Keseriusan penggunaan kata maaf sangat penting dan tidak boleh dilakukan dengan setengah hati kadang berakibat panjang, seperti pada beberapa kasus yang pernah saya jumpai. Pihak yang dianggap kurang serius dalam meminta maaf diminta untuk mengulang kembali permintaan maafnya dan hal itu dilakukan di depan umum seperti kasus pelayanan buruk di sebuah rumah makan. Selain semua kata di atas mungkin Anda pernah juga mendengar kata Gomen Chai, yang umumnya dipakai oleh anak anak. Kemudian ada juga kata lain yaitu Shitsurei Shimasu yang artinya adalah “permisi” yang umum kita dengar pada di lingkungan hotel atau rumah makan, namun kadang dalam kondisi tertentu juga bisa berarti maaf.
Untuk kasus yang sangat serius, apalagi sampai berujung kecelakaan fatal atau bahkan kematian, minta maaf dilakukan dengan membungkuk serendah bahkan tidak jarang sampai bersimpuh di atas lantai atau tanah.. Minta maaf dengan melakukan bunuh diri sebagai rasa penyesalan tertinggi kadang dianggap mulia oleh orang Jepang, khususnya di masa lalu. Jadi tulisan bagian terakhir ini dipakai sebagai gambaran betapa pentingnya arti “minta maaf” bagi orang Jepang.

Tepat waktu

Tepat waktu adalah suatu yang sangat penting dan berlaku juga di negara kita walaupun kadang dalam batas toleransi yang berbeda. Keterlambatan kadang adalah hal yang tidak bisa dihindari jadi memberikan khabar terlebih dahulu dengan telephone atau lainya adalah hal yang sangat dianjurkan. Keterlambatan tanpa khabar berati akan membuat rekan kita menjadi khawatir dan berpikir pada hal yang terburuk seperti kecelakaan, sakit mendadak dan sebagainya. Membiarkan situasi tidak menyenangkan seperti ini tanpa pemberitahuan apapun adalah suatu kesalahan besar karena dianggap tidak menghargai perasaan teman. Sistem transportasi Jepang yang sangat modern membuat alasan klasik seperti kemacetan lalu lintas, hujan, banjir dan sejenisnya adalah hampir tidak mungkin. Kebiasaan orang Jepang (umumnya) adalah datang lebih cepat dari waktu yang disepakati. Dalam hubungan bisnis tentu saja berlaku aturan yang lebih ketat lagi.

Etika di Tempat Publik

Hampir sama dengan bagian sebelumnya, yaitu salam greeting, bagian ini juga hampir sebagian besar bersifat umum atau universal. Hanya beberapa bagian kecil saja yang perlu diperhatikan, karena sepertinya hanya berlaku di negara Jepang saja.
Berjalan di trotoar
Trotoar umumnya berati sebagai tempat untuk pejalan kaki, namun di negara tersebut trotoar juga berfungsi sebagai tempat untuk para pengendara sepeda. Walaupun umumnya terotor di negara tersebut cukup lebar namun karena banyaknya pengguna, baik para pejalan kaki maupun pengguna sepeda maka etika sedikit diperlukan khususnya untuk trotoar yang sempit. Berjalan bergerombol sebaiknya dihindari. Kemudian berpegangan tangan mungkin bukanlah hal tabu di negara tersebut, namun untuk kondisi tertentu hal itu juga sebaiknya tidak dilakukan.

Escalator

Berdiri berjejer atau berduaan di escalator, mungkin merupakan hal bisa dilakukan di negara lain, namun untuk situasi di Jepang, hal itu tidak umum dilakukan. Sebagian orang (terpaksa) harus terus berjalan atau berlari walaupun di escalator sekalipun. Jadi semua orang harus menyediakan sedikit ruang kosong untuk golongan ini. Terlebih lagi di waktu pagi hari atau di areal stasiun, situasi ini yaitu tidak memenuhi badan escalator adalah sangat penting.
Memasuki siang hari, situasinya menjadi sedikit longgar karena saat itu biasanya adalah waktunya para ibu rumah tangga yang mempunyai banyak waktu lebih dan aturan itu menjadi jauh lebih santai saat kita memasuki pusat perbelanjaan. Bisa dimaklumi tentu saja karena dimanapun sepertinya jarang ada orang yang berbelanja dengan tergesa gesa.
Sekali lagi secara tertulis aturan tentang hal ini bisa dikatakan tidak ada dan juga apakah kita harus berdiri di sebelah kanan atau kiri escalator juga tidak ada aturan pasti karena tiap daerah biasanya berbeda. Misalnya daerah Tokyo, kita berdiri sebelah kiri dengan menyisakan ruang kosong di sebelah kanan, namun daerah lain seperti Osaka misalnya berlaku sebaliknya. Cara mudahnya adalah mengikuti orang yang ada di depan kita. Yang jelas, berdiri berjejer ke samping apalagi sampai bermesraan dan pegangan tangan adalah tidak disarankan.

Memotret

Berkunjung ke negara lain tentu dokumentasi menjadi sangat penting. Banyak hal menerik yang tidak ingin kita lewatkan begitu saja namun etika dasarnya hendaknya tetap tidak boleh dilupakan. Memotret di tempat umum tentu saja tidak dilarang sepanjang yang kita potret adalah diri sendiri, keramaian, gedung, bangunan (asal jangan di depan bank).
Memotret orang secara langsung apalagi mengarahkan kamera langsung ke muka orang yang bersangkutan tentu saja sangat tidak pantas. Memotret dengan mencuri, atau secara diam diam (candid) sepanjang tidak diketahui oleh yang bersangkutan tentu saja tidak masalah namun urusannya bisa menjadi besar kalau ketahuan. Jadi meminta ijin terlebih dahulu adalah salah satu tindakan yang cukup bijak menurut saya. Satu hal yang pasti untuk areal di dalam supermarket atau tempat belanja photography sepenuhnya adalah dilarang, walaupun untuk dokumentasi pribadi, sedang di rumah makan biasanya diperbolehkan dalam batas tertentu. Untuk areal keramaian publik dan tempat wisata tertentu, penggunakan tripod kadang dilarang.

Kereta api

Memasuki kereta api satu hal yang paling harus diperhatikan adalah penggunaan telephone, merokok serta makanan dan minuman. Telephone harus di switch ke mode silent. Merokok, makan dan minum di dalam kereta adalah dilarang. Untuk dua hal terakhir sepertinya masih bisa ditoleransikan khususnya pada kereta tertentu khususnya antar kota, bukan pada saat jam sibuk atau dilakukan dengan sedikit tersembunyi.
Membawa banyak barang atau tas atau koper dalam jumlah banyak dan besar sebaiknya dihindari dilakukan pada jam sibuk. Hal ini kadang sedikit susah untuk dihindari khususnya untuk wisatawan pada saat kedatangan atau keberangkatan. Cara terbaik biasanya dilakukan dengan menunggu jam sibuk berlalu, berangkat lebih awal atau menggunakan alat transportasi lain seperti taksi misalnya yang walaupun lebih mahal tapi setidaknya aman dari keluhan penumpang lainya.
Hal lain yang mungkin sudah Anda ketahui adalah tempat duduk yang bertanda untuk Priority Seat, yang sebaiknya tidak dipakai karena tempat ini khusus pada orang tua, sakit, wanita hamil, lanjut usia dan menawarkan tempat duduk yang kita miliki pada saat yang diperlukan. Bagian terkahir ini adalah kerelaan saja karena banyak juga orang Jepang yang tidak menjalankannya dengan pura pura tertidur atau tidak melihat.
Memandang atau menatap tanpa alasan terlebih pada orang yang tidak dikenal, tentu saja sangat tidak sopan dan hal ini sepertinya berlaku di mana saja. Namun berkumpul dalam ruangan sempit seperti dalam kereta sepertinya cukup susah untuk “menempatkan mata” dengan benar. Hal ini sepertinya di alami juga oleh orang Jepang. Kebanyakan dari mereka biasanya mencoba sibuk dengan membaca, bermain game di hp, atau membaca sejumlah iklan yang tertempel di dinding atas kereta kalau Anda dalam posisi berdiri. Sedangkan kalau dalam posisi beruntung karena mendapat tempat duduk biasanya mereka lebih banyak yang memejamkan mata berpura pura tidur atau tidur benaran.

Etika Bertamu

Memberi kabar dan salam

Memberi khabar terlebih dahulu adalah hal penting dalam etika bertamu ke rumah seseorang di Jepang. Anda tidak bisa datang begitu saja tanpa pemberitahuan. Privasi mungkin adalah alasan pertama, kemudian alasan kedua adalah karena aktivitas. Besar kemungkinan Anda tidak akan menjumpai siapapun dalam rumah karena sebagian besar dari mereka beraktivitas diluar seharian, entah karena kerja atau aktivitas lain.
Saat memasuki rumah orang lain mereka biasanya memberi salam dengan kalimat Ojamashimasu sebagai salam pertama yang mungkin berarti permintaan maaf karena telah merepotkan tuan rumah karena kunjungan kita (Jama = merepotkan). Pada saat keluar rumah baik untuk rumah sendiri atau rumah orang lain yang kita tumpangi maka dipakai salam Ittekimasu , sedangkan saat pulang dari memakai salam Tadaima.

Sandal atau sepatu harus dilepas

Ini tampaknya tidak terlalu susah bagi kita karena umumnya juga berlaku di negara kita namun dengan sedikit perkecualian. Kebanyakan rumah orang Jepang berlantaikan kayu dan beberapa ruangan adalah berlantaikan tikar rumput (Tatami). Untuk menjaga kebersihan lantai dan juga menghindari kerusakan, melepas sepatu atau sandal adalah wajib dan menggantinya dengan sandal khusus dalam rumah. Kalau sandal pengganti tidak ada, atau tuan rumah tidak menyediakannya, abaikan saja, karena bukan merupakan masalah besar, kecuali waktu musim dingin, atau kaos kaki anda berlobang pada bagian jarinya.

Biasanya sepatu akan diletakkan dengan ujung menghadap ke arah pintu (keluar) dengan rapi. Sebagai pihak tamu kita wajib melakukan hal ini, walaupun mungkin tuan rumah sendiri tidak meletakkannya dengan rapi, namun minimal ujung sepatu biasanya masih menghadap keluar.
Catatan : Aturan ini kadang berlaku juga ketika memasuki rumah makan khususnya yang berlantai tatami atau rumput serta untuk tempat tertentu seperti rumah sakit, klinik, kuil dll.Hal paling mudah untuk mengindari kesalahan yang fatal adalah menanyakannya terlebih dahulu atau melihat dengan melihat posisi lantai. Lantai dengan posisi lebih tinggi, ruangan beralaskan tikar atau kayu, untuk memasukinya dipastikan harus melepas sepatu ketika memasukinya. Memasuki kantor, ruangan atau rumah berlantai keramik, ruangan berkarpet kamar hotel bertype western style, sepatau tetap dipakai.

Duduk di atas tikar atau lantai

Duduk dengan menduduki kaki dan arah kaki menghadap ke belakang. Ini adalah sikap dan cara duduk yang formal. Untuk situasi tidak formal, duduk bersila dianggap wajar, namun tidak untuk wanita kecuali untuk hubungan yang sudah sangat dekat. Duduk gaya jongkok juga, rebahan atau tidur di lantai bisa dilakukan namun semuanya disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat itu.

Menggunakan toilet

Jangan masuk toliet dengan sandal rumah. Gunakan sandal toilet yang sudah tersedia dan hanya dipakai ketika di dalam toilet saja. Hal ini sedikit susah tampaknya, karena letak toilet yang biasanya di dalam rumah dan mengganti sandal (lagi) ketika memasuki toilet adalah hal yang sering terlupakan. Kebiasan orang asing yang tinggal di Jepang pada umumnya adalah memakai sandal biasa masuk ke dalam ruangan toilet atau lupa melepas sandal toilet ketika keluar dan tetap memainya jalan jalan di sepanjang rumah.

Tutup kembali tutup jamban, setelah selesai dipakai. Kebanyakan jamban dilengkapi dengan listrik pemanas yang akan menjaga permukaan jamban tetap hangat ketika diduduki yang sangat berguna ketika musim dingin. Membiarkan kloset dalam keadaan terbuka akan sangat berpengaruh ke tagihan rekening listrik bulan berikutnya. Jadi walaupun kelihatannya sepele tidak ada salahnya untuk diperhatikan.

Etika Menginap
Di dalam budaya Jepang, menginap di rumah orang, kenalan atau bahkan saudara kandung sekalipun sangatlah tidak umum dilakukan terlebih untuk mereka yang sudah berkeluarga dan tinggal di daerah perkotaan. Hal ini mungkin disebabkan karena kebanyakan orang tinggal di apartment yang sempit, terdiri dari satu atau dua kamar saja jadi (menurut mereka) hanya cukup untuk satu atau dua orang. Umumnya pihak tamu lebih suka memilih tinggal di hotel ataupun penginapan kecil yang bisa ditemukan dengan mudah di berbagai tempat bahkan untuk desa kecil sekalipun.
Namun walaupun tidak umum, menginap di rumah orang Jepang bukanlah tidak ada sama sekali yang biasanya disebabkan karena hal khusus misalnya hubungan relasi yang sudah sangat dekat atau menerima kunjungan orang asing dalam rangka pertukaran budaya. Khusus untuk bagian terakhir, pihak tamu umumnya akan menginap di rumah yang “sesungguhnya” atau minimal ada style tradisionalnya seperti pintu geser dari kertas, lantai rumput tatami dll.
Pihak tuan rumah umumnya pada awalnya akan menyiapkan baju tidur, seprai dan tempat tidur baru pada pihak tamu. Pada hari terakhir pihak tamu akan merapikan kembali semua peralatan tersebut, melepas seprai dan alas bantal dan mencucinya atau minimal menaruhnya di dekat mesin cuci. Kemudaian pada saat pulang dan telah sampai di rumah maka memberi khabar dengan telephone atau surat sebagai pemberitahuan bahwa kita sudah tiba di rumah sampai dengan selamat, adalah wajib dilakukan. Pemberitahuan ini penting karena selain untuk memberi khabar terakhir, juga dipakai sekali lagi untuk mengucapkan rasa terima kasih.
Selama menginap, makan, minum dan mungkin juga hal lainya umumnya adalah merupakan tanggung jawab pihak tuan rumah. Jadi selama menginap, kita dianggap sebagai bagian dari keluarga. Sebisa mungkin semua aktivitas termasuk bersih bersih (ringan) dan makan akan dilakukan bersama. Jadi menginap hanya untuk numpang tidur atau memanfaatkan rumah teman sebagai pengganti hotel yang mahal, beli dan makan sendiri diluar atau membawanya ke dalam kamar dan makan tanpa berbagi, tentu saja dianggap tidak sopan. Aturan ini juga berlaku untuk tuan rumah.

Etika Makan Bersama

Salam Itadakimasu dan gochisosama deshita
Orang jepang biasanya mengucapkan Itadakimasu sebelum makan dan gochisosama deshita setelah makan, dengan atau tanpa mencakupkan kedua tangan di dada. Salam ini diucapkan sebagai ungkapan terimakasih kepada makanan, kepada petani yang menanam dan membesarkan makanan, ibu atau tukang masak yang mengolah makanan dan tentu saja sang pencipta. Jadi terima kasih diucapkan kepada semua mata rantai proses sampai makanan itu terhidang di depan kita. Ucapan ini adalah wajib khususnya ketika mendapat jamuan makan dari orang atau rekan lain, sedangkan kalau makan seorang diri sendiri tentu saja etika ini dan juga semua etika lainya menjadi tidak berlaku.
Note : beberapa rekan beragama lain mengatakan salam ini haram hukumnya, jadi ada baiknya dikonsultasikan dulu dengan yang lebih tahu.

Menggunakan sumpit

Jangan menancapkan sumpit di dalam cawan nasi. Jangan menyerahkan makanan secara langsung dari sumpit ke sumpit. Jangan menunjuk atau mengerakgerakan sumpit ketika berbicara. Jangan meninggalkan sumpit terbenam dalam kuah atau makanan tapi taruh berjajar di atas piring atau di tempat dudukanannya. Bila mengambil makanan dalam piring besar, gunakan sumpit dengan ujung terbalik (batang sumpit) atau sendok yang telah tersedia. Hal ini dilakukan dengan dua tujuan yaitu ujung sumpit yang telah masuk ke mulut dianggap tidak etis dipakai mengambil makanan di piring utama. Sedangkan yang kedua, ujung sumpit yang telah menyentuh makanan tertentu akan mempengaruhi rasa dari makanan lainnya. Aturan yang sangat membosankan menurut saya.

Berbagi makanan

Makan bukan cuma sebatas urusan perut, tapi juga masalah kebersamaan, saling peduli. Jangan asik makan sendiri, tapi cobalah bagi makanan pesanan kita sendiri ke teman makan. Tawarkan mereka beberapa bagian kecil makan yang kita pegang. Umumnya makanan akan dibagi dengan piring kecil secara merata, jadi bisa mencoba banyak variasi rasa dalam sekali makan adalah hal yang sangat disukai oleh kebanyakan orang jepang.. Usakahan menuangkan air atau teh dari pot besar ke gelas teman makan anda. Untuk jamuan dengan minuman beralkohol atau bir aturannya lebih ketat lagi yaitu jangan biarkan gelas pasangan makanan anda sampai kosong ! Segera tuangkan minuman baru kalau isi gelas parter Anda mulai berkurang. Walaupun anda sendiri tidak minum alkohol, karena kebetulan bertugas sebagai pengemudi atau sebab lain, aturan ini tetap perlu sebagai wujud peduli pada situasi lawan.

Menyisakan makanan

Menyisakan makanan adalah sangat tidak sopan bagi orang tuan rumah atau orang yang menjamu anda. Kebanyakan orang Jepang akan menghabiskan makanan sampai butir nasi terakhir. Makanan yang tersisa di piring besar, masih bisa disimpan atau dimakan oleh anggota lain, sedangkan makan sisa dari piring sendiri akan terbuang percuma. Dimanapun nasi rasanya pasti sama jadi tidak ada alasan untuk menyisakannya. Makanan lain bisanya diambil dalam porsi kecil dan ditambah lagi kalau terasa kurang. Dalam lingkungan rumah makan, pelayan atau tukang masak kadang akan menanyakan ke kita kalau makanan di piring masih tersisa banyak sedangkan untuk jamuan gaya prasmanan di lingkungan hotel, bisa jadi mereka akan mengenakan biaya tambahan kalau makanan yang kita ambil masih tersisa walaupun kasus ini sebenaranya sangat jarang terjadi.

Setelah makan

Setelah makan makan bisanya semua orang terlebih pihak tamu akan mengucapkan Gochiso samadeshita dan kadang disambung dengan kalimat oishiikatta desu . Ucapan ini terutama yang terakhir yang artinya makanannya sangat enak, sepertinya adalah umum dilakukan walaupun bisa jadi makananannya adalah tidak enak, kurang garam, tanpa rasa karena dimasak tanpa bumbu dan cabe !
Dalam lingkungan keluarga, orang yang bertugas memasak biasanya tidak merangkap sebagai pencuci piring. Jadi kalau tukang masaknya adalah sang ibu, yang bertugas mencuci piring biasanya adalah si bapak, anak atau anggota keluarga lainnya. Sedangkan pada saat posisi kita adalah sebagai tamu maka tuan rumah biasanya walaupun dilarang biasanya pihak wanita atau istri akan bersikeras untuk membantu mencuci peralatan makan. Umumnya ucapan terima kasih untuk jamuan makan tidak cukup hanya diucapkan sekali saja sehingga ucapan terima kasih akan diulangi lagi pada pertemuan selanjutnya.

Pembayaran dan bingkisan

Umumnya orang Jepang akan membayar harga makanannya sendiri sendiri jadi total harga makanan akan dibagi rata sampai jumlah sen terkecil untuk tiap orang. Biasanya kasir sudah mengetahui apa yang harus dilakukan. Kalau acara jamuan makan adalah bersifat undangan maka berlaku aturan umum yaitu pihak pengundang yang akan membayar semua makanannya. Namun biasanya pihak yang diundang merasa tidak enak kalau hanya datang untuk makan saja jadi mereka biasanya akan membawa bingkisan kecil sebagai rasa terima kasih. Bingkisan itu biasanya adalah kue, sake atau wine kalau kita sudah yakin pihak pengundang bukan berpantang terhadap alkohol. Jamuan yang dilakukan di rumah, maka wine akan dibagi dan diminum pada saat jamuan sedangkan untuk jamauan di rumah makan hal ini tentu saja tidak bisa dilakukan karena aturan (tidak tertulis) dari rumah makan bisanya melarang membawa makanan atau minuman dari luar.

Etika Mandi

Mandi pun ada aturannya ? Lha, mau dibilang apa, karena begitulah kenyataanya. Kalau Anda melakukannya di kamar mandi sendiri tentu tidak ada aturan apapun yang perlu dijalankan namun kalau tinggal di rumah keluarga atau mandi di pemandian umum tentu saja ada etika kecil yang harus diketahui.
Sedikit perlu digaris bawahi disini adalah kata mandi selalu mengacu pada mandi gaya Jepang atau Ofuro yaitu berendam di bak mandi atau kolam dengan air yang bersuhu sekitar 40% Celcius. Sedang mandi dengan mengguyur air ke badan dengan shower adalah merupakan mandi gaya barat yang disebut dengan Shawa (Shower). Untuk mandi yang terakhir ini biasanya cukup dilakukan di rumah secara perorangan jadi tentu saja hampir tidak ada aturan apapun yang perlu diperhatikan.

Mandi di pemandian umum

Sebelum masuk ke kolam atau bak mandi, badan harus dibersihkan atau diguyur dengan air berkali kali. Selain bertujuan menyesuaikan suhu badan dengan suhu air kolam juga bermaksud untuk membersihkan keringat yang ada di badan. Pada saat masuk ke dalam kolam, handuk kecil yang kita bawa yang berfungsi untuk penutup tubuh, tidak boleh sampai ikut terendam jadi ditaruh di batu di pinggir kolam atau melipatnya dan menaruhnya di atas kepala. Bermain air, berenang dalam kolam atau mencuci handuk yang dibawa adalah dilarang.
Pemandian umum sebetulnya tidak cuma berfungsi sebagai tempat mendi saja tapi juga sebagai tempat rekreasi, penyembuhan dan tempat sosialisasi antar atasan dengan bawahan atau antar relasi. Bukan pemandangan yang aneh kalau sesekali kita melihat seseorang menggosok punggung orang lain. Biasanya hal ini dilakukan oleh bawahan pada atasannya atau anggota keluarga yang lebih muda pada anggota yang yang lebih tua.

Mandi di rumah

Satu hal yang paling berbeda antara mandi di pemandian umum dengan di rumah adalah luas bak mandi untuk berendam yang hanya cukup untuk satu orang dewasa saja jadi mandi di rumah berarti harus dilakukan secara bergilir. Aturan standardnya, yang mendapat giliran mandi paling akhir biasanya bertugas membersihkan dan mengeringkan kamar dan bak mandi, sedangkan orang yang mandi paling awal bertugas menyiapkan tempat tidur (Futon). Note : Mandi umumnya dilakukan sebelum tidur. Sedangkan tidur gaya Jepang berarti harus menyiapkan kasur dan selimut serta melipat dan menyimpannya kembali pagi harinya.
Karena air yang dipakai di bak kamar mandi umumnya bukanlah air yang mengalir terus menerus seperti di pemandian umum yang berarti orang yang mendapat mandi ke dua akan berendam di bak mandi dengan ari yang sama maka badan harus di cuci sebersih mungkin sebelumnya. Jadi terlebih dahulu kita harus mandi seperti layaknya mandi biasa memakai shower, menyikat seluruh badan sebersih mungkin, membilasnya setelah bersih barulah masuk dan berendam di bak mandi. Jadi bak mandi hanya berfungsi sebagai tempat berendam saja. Terakhir setelah dirasa badan cukup hangat badan dibilas dengan air bersih atau air shower sekali lagi dan aktivitas mandi yang disebut Ofuro inipun berakhir.
Mengenai urutan, siapa yang mandi paling awal dan siapa paling akhir tidaklah terlalu penting dan tergantung kesepakatan saja. Umumnya anak terkecil mendapat giliran paling awal karena harus tidur lebih awal dan berangkat ke sekolah lebih pagi.
Demikianlah ranguman yang bisa saya buat tentang etika dasar pergaulan sehari hari orang atau tinggal di Jepang. Etika lainya, kalau terlewatkan akan saya tambahkan lagi nanti. Tulisan ini dibuat sepenuhnya berdasarkan pengalaman dan pengamatan belaka yang bisa jadi berbeda dengan etika yang Anda pelajari. Sekali lagi tidak ada buku resmi yang bisa dijadikan panduan karena etika itu sendiri merupakan suatu aturan yang tidak tertulis.
Kategori:Budaya Jepang

Sekilas Tentang Nama Orang Jepang

23 Juni 2012 1 komentar

Sekilas Tentang Nama

 Orang Jepang umumnya memiliki nama yang cukup khas dan mudah dikenali dan juga mudah diucapkan. Seperti halnya budaya barat, nama orang jepang juga menggunakan dua nama yaitu nama panggilan dan nama keluarga. Namun yang sedikit membedakan adalah aturan penulisannya, yaitu nama keluarga diletakkan di awal dan disusul dengan nama yang bersangkutan. Namun aturan itu berlaku hanya untuk penulisan huruf kanji, sedangkan kalau ditulis dengan huruf romawi, maka nama keluarga akan terletak di belakang.
Seperti umumnya yang berlaku di negara lain, nama panggilan hanya dipakai untuk sahabat dekat dan lingkungan keluarga saja. Sedangkan selain itu, sepenuhnya menggunakan nama keluarga.

San, Chan, Kun dan Sama

Secara umum, menyebut nama sesorang secara polos tanpa embel embel, Pak, Bu, Mas dsb adalah tidak umum dilakukan di negara kita, kecuali untuk teman sebaya, suami istri atau anggota keluarga yang lebih kecil. Aturan ini juga berlaku di negara tersebut. Umumnya kata yang paling umum dipakai adalah kata San. Penggunaannya relatif mudah, yaitu ditambahkan pada akhir nama seseorang tanpa membedakan gender, status ataupun umur.
Sedikit catatan, kata San ini tidak bisa berdiri sendiri, tapi harus satu paket dengan nama orang. Jadi kalau di Jepang, tidak tahu atau lupa nama sesorang, untuk memanggilnya rada susah juga. Catatan lain, budaya Jepang tidak mengenal kata hormat untuk diri sendiri, jadi kata ini tentu saja tidak boleh dipakai untuk diri sendiri.
Walaupun kata San sudah cukup sopan dan bisa dipakai dalam berbagai kesempatan, namun ada juga variasi sebutan lain dengan penggunaan yang lebih spesific. Selengkapnya saya coba tulis sebagai berikut

:

  1. San
    Adalah kata yang paling umum yang digunakan dan ditambahkan didepan nama seseorang.
  2. Kun dan Chan
    Dipakai untuk orang yang lebih kecil, anak, kecil, teman pergaulan atau di lingkungan keluarga. Kun umumnya dipakai untuk anak laki laki sedangkan chan bisa dipakai untuk anak laki ataupun wanita. Chan juga umum dipakai untuk sebutan bayi (Aka-chan) serta binatang peliharaan, seperti Shiro-chan adalah nama untuk anjingnya Sin-chan.
  3. Sama
    Adalah bentuk paling hormat dari kata San. Umumnya digunakan dalam situasi resmi, bahasa tulis, surat menyurat, pengumuman di pusat perbelanjaan dan situasi yang berhubungan dengan bisnis atau pelanggan karena pelanggan adalah dianggap sebagai raja (O-sama). Kata ini juga dipakai untuk sebutan Tuhan dalam bahasa Jepang (Kami Sama)
  4. Lingkungan kerja / group
    Untuk profesi tertentu ataupun di lingkungan kerja, ataupun group nama biasanya aturannya sedikit berubah yaitu tidak lagi menggunakan kata San sebagai gantinya digunakan nama jabatan atau profesi. Contoh mudah misalnya Sensei untuk guru dan dokter, Sachou untuk direktur dsb. Sedikit berbeda dengan kata San yang harus dipakai satu paket dengan nama orang ybs, sedangkan sebutan Sensei dst bisa dipakai berdiri sendiri (tanpa tambahan nama). Istilah lainnya yang umum dipakai adalah Buchou untuk manager, Taicho (kepala regu), Kouchou (kepala sekolah), Senpai (kakak kelas) Tenchou (kepala toko) dan masih banyak lagi.
  5. Lingkungan keluarga
    Bagian ini sepertinya yang paling unik karena hampir tidak dikenal dalam budaya negara lain. Seperti telah disebutkan di awal, budaya Jepang sama sekali tidak mengenal kata hormat untuk keluarga ataupun diri sendiri jadi bagi orang asing mungkin akan sedikit membingungkan. Contohnya mudahnya, ketika kita memanggil orang tua (sendiri) maka digunakan kata Otou-san (bapak) dan Okaa-san (ibu). Kata San ditambahkan pada kedua kata tersebut, sebagai bentuk hormat pada orang yang lebih tua. Namun saat kita memperkenalkan, membicarakan orang tua (sendiri) pada orang lain maka kedua kata tersebut (Otou-san dan Oka-san) tidak bisa dipakai. Sebagai gantinya dipakai kata Chichi (Bapak) dan Haha (ibu). Demikian juga dengan anggota keluarga lainnya, masing masing memiliki dua kata yang harus dibedakan. Selengkapnya saya tulis di tabel berikut :
Terjemahan Keluarga Sendiri Keluaga Lain Huruf kanji
Bapak Chichi Otou-san
Ibu Haha Okaa-san
Kakak laki Ani Oni-san
Kakak wanita Ane One-san
Adik laki Otouto Otouto-san
Adik wanita Imouto Imouto-san
       
Suami Shujin Go Shujin 主人
Istri Tsuma Oku-san
Anak Kodomo Oko-san 子供
Anak wanita Musume Ojou-san
Anak laki Musuko Musuko-san 息子
       
Kakek Sofu Ojii-san 祖父
Nenek Sobo Obaa-san 祖母
Paman Oji Oji-san hiragana
Bibi Oba Oba-san hiragana
Nephew Oi Oigo-san hiragana
Niece Mei Meigo-san hiragana
Cousin Itoko Itoko no kata hiragana
       
Bersaudara kandung Kyoudai Go Kyoudai 兄弟
Orang Tua Ryoushi Go Ryoushin 両親
Keluarga Kazoku Go-kazaku 家族
Contoh sederhana ilustrasi di bawah ini mungkin bisa sedikit membantu
Percakapan
: Kata yang dipakai
A : Kenalkan, Ini ibu saya : Haha
B : Wajah Ibu-mu (okaa-san) mirip dengan wajah Ibu saya (haha) : Okaa-san , Haha
B : Bapak mu dimana ? Saya belum melihatnya   Otou-san
A : Bapak saya ada diruang bawah, lagi bekerja.
Sebentar saya panggil dulu
: Chichi
A : Bapak !!! Coba ke sini sebentar ! : Otou-san !!!
Bingung ? Mudah mudahan tidak. Yang terpenting, sepanjang kita menambahkan kata San di bagian belakang nama orang, hal itu sepertinya sudah cukup. Menambahkan kata San (Chan, Kun) untuk diri sendiripun sebenarnya sama sekali tidak salah, cuma terasa lucu saja karena kesalahan ini umum dilakukan oleh orang asing dan anak kecil. Demikian juga kesalahan menyebut kata Oto-san atau Oka-san untuk orang tua sendiri ketika berbicara dengan orang lain umum dilakukan oleh anak kecil.

Nama Depan

Hampir sebagian besar nama orang Jepang terdiri dari dua kata atau nama yaitu nama depan dan nama keluarga. Nama tengah umumnya kurang populer digunakan.
Bagaimana caranya membedakan antara nama depan dan nama belakang ? Bagian ini sepertinya sedikit susah untuk dilakukan. Namun walapun susah setidaknya ada beberpa ciri yang bisa dipakai patokan yaitu dari akhiran suku katanya. Seperti halnya di Indonesia, nama yang berakhiran huruf “i” umumnya adalah nama wanita, sedangakan nama pria umumnya berakhiran “a” atau “o” untuk nama Jawa, namun tentu saja aturan ini tidak baku.
Suku kata terakhir yang berahiran huruf Ko seperti Atusko, Miyako, Mineko, Ayako, Kyoko, Keiko umumnya pemiliknya adalah wanita. Huruf Ko ditulis dengan huruf kanji 子 yang berarti anak. Suku kata lain yang sangat populer adalah akhiran kata “i” atau bersuku kata “Mi” seperti Mayumi, Minami, Sakurai, Mie, umumnya adalah wanita. Huruf “Mi” pada nama di atas ditulis dalam huruf kanji (美) yang berarti cantik atau indah. Nama lain yang disukai adalah berakhiran Ka (香 atau 花) yang berarti bunga atau parfume seperti Reika atau berakhiran Na ( 菜atau 奈 )yang berarti hijau sperti Haruna.
Untuk nama pria, sedikit susah karena hampir tidak ada aturan atau ciri khusus yang bisa dipakai sebagai identifikasinya. Sedikit bisa saya tulis untuk beberapa nama populer adalah Ro yang berarti anak laki laki (郎) atau terang bersinar (朗) seperti Ichiro, Yasuhiro, Kazuhiro dll.

Nama Keluarga

Penggunaan nama keluarga bisa dibilang relatif baru pada budaya Jepang karena baru mulai diterapkan pada masa Restorasi Meiji sekitar tahun 1870an dengan mulai diperkenalkannya sistem registrasi keluarga. Pada masa itu semua orang harus terdaftar dan tercatat pada regestrasi keluarga dan semua orang harus mempunyai nama keluarga. Sebelum itu, nama keluarga hanya umum dimiliki oleh golongan yaitu samurai dan golongan Kuge, yaitu golongan arsitrokrat yang tinggal di sekitar lingkungan istana saja.
Sampai saat ini ada sekitar 290.000 nama keluarga yang terdaftar di Jepang. Jumlah yang sangat banyak kalau dibandingkan dengan negara lain seperti China yang memiliki sekitar 500, Korea 250 atau Finland negara Eropa yang memiliki nama keluarga terbanyak 30.000an. Nama keluarga yang begitu banyak disebabkan oleh cara membaca huruf kanji yang memiliki banyak variasi. Satu huruf kanji bisa dibaca dengan dua atau tiga nama demikian juga sebaliknya, nama yang sama bisa ditulis dengan huruf yang berbeda. Disamping ribun jenis huruf yang sudah lazim digunakan, ada juga beberapa huruf langka yang jarang digunakan serta ditambah lagi dengan nama orang Jepang keturunan China, Korea dan Okinawa yang kadang mempunyai cara baca yang berbeda. Jadi bisa dibayangkan betapa ruwetnya dan bingungnya mereka dalam urursan nama. Untuk menghidari kesalahan yang tidak diinginkan, biasanya dalam catatan dan dokumen resmi bisanya di atas huruf kanji selalu tersedia kolom kecil untuk menulis huruf hiragana.
Umumnya, berdasarkan nama keluarga dan huruf kanjinya biasanya menjelaskan asal usul leluhur atau silsilah orang yang bersangkutan. Misalnya nama keluarga bersuku kata Ta atau Da 田, seperti Yamada, Tanaka, besar kemungkinan berasal dari keluarga petani. Nama bersuku kata Yama, seperti Yamaguchi adalah berasal dari gunung. Nama bersuku kata Fuji atau To, 藤 yang berarti bunga Fuji umumnya berasal dari golongan samurai atau pemimpin. Namun pada semua itu hanyalah asal asul saja atau sekedar nama belaka. Pada masa sekarang silsilah asal nama semacam itu tidaklah terlalu penting seperi misalnya nama keluarga Honda, walaupun berakhiran Da yang berarti sawah, tentu bukan lagi bekerja sebagai petani namun pemilik perusahaan otomotif.

Jiro dan Chojo

Disamping nama resmi seperti di atas, ada juga nama tidak resmi yang sering ditambahkan di depan nama seseorang untuk menunjukkan urutan. Umumnya hanya dipakai untuk keluarga besar yang memiliki banyak anak atau saudara.

ANAK LAKI LAKI ANAK PEREMPUAN ARTINYA
Chounan Choujo anak laki laki/ perempuan pertama
Jinan Nijou anak laki laki/ perempuan ke – 2
Jiro Sanjo anak laki laki/ perempuan ke – 3
dst dst dst

Perbandingannya dengan budaya Indonesia

Di negara kita untuk memanggil nama sesorang menggunakan istilah yang beragam seperti Bapak dan Ibu untuk situasi formal, sedangkan untuk situasi non formal mungkin adalah Mas, Bung, Bli dsb
Indonesia hampir tidak mengenal aturan tentang nama keluarga, kecuali untuk sebagian daerah tertentu seperti Menado, Ambon atau Medan. Pada situasi tertentu disaat nama keluarga wajib dicantumkan, umumnya digunakan kata “Binti” atau “Bin”. Untuk kondisi di Indonesia, sepertinya dengan ataupun tanpa nama keluarga, nyaris bukanlah menjadi masalah apapun, namun saat dihadapkan pada aturan negara lain seperti Jepang misalnya, kadang menimbulkan sedikit masalah. Bukan masalah besar tentu saja, cuma saja memerlukan cukup banyak waktu untuk menjelaskannya.
Bagi mereka yang memiliki nama super panjang, umumnya akan lebih sulit lagi khusunya untuk penulisannya, karena formulir untuk kolom nama di jepang umum sangat sempit dan pendek. Maklum saja, nama mereka kalau ditulis dalam huruf kanji umumnya rata rata berjumlah 4 huruf saja, kadang ada juga yang 5 atau 6 huruf tapi relatif sangat jarang ditemukan.
Sedangkan khusus untuk nama dengan urutan kelahiran, umumnya hanya ditemukan di daerah Bali, dengan urutan : Wayan, Made, Nyoman dst. Namun sedikit perbedaannya, urutan nama di daerah Bali tersebut tidak membedakan gender. Untuk membedakan laki dan perempuan dipakai kata awal “I” untuk anak laki laki dan “NI” untuk anak perempuan.
Kategori:Budaya Jepang
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.